Tujuan dan Kendala Keaksaraan Fungsional (KF)

img_8817Keaksaraan fungsional merupakan suatu pendekatan atau cara untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam menguasai dan menggunakan keterampilan menulis, membaca, berhitung, mengamati, dan menganalisa yang berorientasi pada kehidupan sehari-hari serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitarnya.

Tujuan Program Keaksaraan Fungsional

Tujuan program keaksaraan fungsional adalah diharapkan peserta didik untuk :
1. Dapat meningkatkan pengetahuan membaca, menulis dan berhitung serta keterampilan fungsional untuk meningkatkan taraf hidupnya.
2. menggali potensi dan sumber-sumber kehidupan yang ada dilingkungan sekitar peserta didik, untuk memecahkan masalah keaksaraan.

img_0093

Beberapa kendala yang menghambat pelaksanaan program keaksaraan fungsional

Sebagai salah satu program yang memiliki cakupan yang luas, pelaksanaan program KF pasti akan memiliki kendala di dalam pelaksanaannya. Kendala yang terjadi harus ditangani secara serius agar tujuan yang ingin dicapai dari pelaksaannya bisa terwujud sesuai dengan harapan penentu kebijakan dan masyarakat. Beberapa kendala yang sering terjadi di antaranya:

1.Terbatasnya anggaran yang di butuhkan

Keterbatasan dana pada pelaksanaan program KF menjadi salah satu kendala untuk mencapai angka buta aksara nol sesuai dengan apa yang dicita-citakan. Hal itu terbukti dari minimnya ketersedian bahan belajar yang dibutuhkan oleh para warga belajar terkait dengan sarana dan prasarana. Kendala ini menjadi salah satu hal yang wajar melihat kondisi daerah kita yang masih sedang berkembang dan membutuhkan dana yang besar untuk membangun aspek penunjang pada berbagai bidang kehidupan.

2.Ketersediaan data penyandang buta aksara yang belum lengkap

Ketersediaan data yang tidak lengkap memberikan dampak yang negatif terhadap efisiensi dan efektivitas pelaksanaan progaram KF. Kondisi tersebut terjadi karena keterbatasan data bisa memberikan peluang bagi para oknum yang memanfaatkan itu untuk melakukan manipulasi data dan penyelewengan dana.

Tidak tersedianya data yang lengkap juga mengakibatkan banyaknya warga belajar yang  berusia 55 tahun ke atas yang ikut serta dalam pembelajaran. Berdasarkan hak asasi, hal tersebut bisa dibenarkan apalagi setiap orang memiliki hak dan kewajiban untuk belajar sepanjang hayat. Pembagian insentif pada dasarnya membuat warga belajar menjadi bergairah dan berebut untuk mendaftarkan diri agar bisa diterima sebagai anggota belajar. Jika dilihat dari segi efektivitas apa yang dibelajarkan maka warga yang berusia 55 tahun atau lebih mempunyai kecenderungan tidak produktif lagi dan sering mengidap penyakit cepat lupa atau insomenia.

Kondisi ini tentu saja akan berdampak pada tidak maksimalnya hasil program KF tersebut. Untuk itu, pemerintah harus melakukan pendataan yang akurat terhadap fakta dari jumlah warga yang  menderita buta aksara. Begitu juga dengan masyarakat. Mereka harus mendukung perpanjangan tangan pemerintah atau pelaksana lapangan yang bertugas untuk mendata warga karena tanpa dukungan masyarakat mustahil apa yang diprogramkan bisa dilaksanakan dengan maksimal. Kerjasama antar berbagai pihak yang menjadi bagian dari daerah tercinta ini dibutuhkan agar pemberantasan buta aksara bisa dilaksanakan dan memenuhi target.

3.Jangka waktu pembelajaran relatif singkat

Jangka waktu pembelajaran yang relatif singkat  menjadi salah satu kendala bagi warga belajar yang terkadang belum bisa menguasai dasar-dasar menulis membaca dan menghitung. Dalam jangka waktu yang relatif singkat, para tutor atau pengajar akan sulit melakukan pengayaan terhadap warga belajar yang belum tuntas dan mencapai standar predikat melek aksara. Keadaan tersebut belum disesuaikan dengan tingkat pemahaman warga belajar yang begitu beragam dan kondisi waktu belajar para warga yang terkadang harus tertunda karena aktivitas yang lain. Kondisi tersebut tentu saja tidak bisa dihindari mengingat warga belajar rata-rata sudah berkeluarga dan mempunyai tanggung jawab yang penuh terhadap keluarganya.

Agar bisa mencapai target buta aksara dengan tuntas maka pemerintah dan lembaga yang berwenang perlu mempertimbangkan lagi jangka waktu belajar yang harus atau wajib dijalani oleh para penderita buta aksara mengingat itu merupakan sebuah penyakit ketertinggalan yang harus diatasi.

4.Kurangnya kesadaran masyarakat belajar terhadap pentingnya program KF

Kurangnya kesadaran dari warga belajar untuk mengikuti program KF menyebabkan sulitnya mereka mencapai ketuntasan. Pada umumnya warga belajar termotivasi untuk datang ke lokasi pelaksanaan KF jika dibagikan imbalan atau insentif berupa uang yang disediakan oleh pemerintah meskipun terkadang pada beberapa tempat warga belajar cukup antusias untuk mengikuti program tersebut.

Tidak hanya itu, warga belajar yang pada umumnya sudah berumah tangga mempunyai kesadaran yang sangat minim terhadap apa yang sudah diajarkan. Dengan alasan banyaknya aktivitas di rumah, mereka tidak mengerjakan tugas-tugas yang diberikan padahal itu dubutuhkan supaya para tutor bisa mengetahui tingkat kesulitan yang mereka alami sehingga bisa melakukan pengayaan kembali.

5.Kurangnya koordinasi antara pemerintah provinsi dan daerah

Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menyebabkan miss komunikasi di antara mereka. Keadaan tersebut pada akhirnya memunculkan permasalahan dalam pelaksanaanya. Hal itu terjadi karena pemerintah daerah memiliki pengetahuan yang detail tentang kondisi daerahnya dan jumlah warga yang menderita buta aksara. Oleh sebab itu, antara pemerintah provinsi dan daerah harus terjadi komunikasi yang intensif supaya apa yang menjadi kendala dan mendukung pelaksanaan program penuntasan buta aksara bisa dipecahkan bersama tanpa saling melempar tugas dan kesalahan ketika terjadi gelombang kecil berupa kekeliruan dalam pelaksanaannya.  Ketika koordinasi telah terjadi secara intensif maka sedikit tidak akan memperbesar peluang tercapainya cita-cita bersama yang telah dicanangkan.

6.Pemilihan tutor atau tenaga pengajar kurang selektif

Sesuai dengan konsep pendidikan yang mewajbkan tersedianya faktor primer agar apa dijalankan bisa maksimal. Dalam pelaksaan progran KF, para tutor atau tenaga pengajar juga harus diseleksi secara ketat. Hal tersebut dibutuhkan karena bagaimanapun KF merupakan sebuah proses pembelajaran yang dilakukan pada warga yang usianya rata-rata sudah lanjut dan dewasa. Untuk itu, dibutuhkan para tutor yang mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi serta mampu merangkul, membina dan membimbing warga belajar supaya mau dan aktif mengembangkan kemampuan mereka. Justru pembelajaran pada orang tua atau dewasa tantangannya lebih besar karena dibutuhkan tutor yang bisa berbahasa yang sopan dan mampu bersikap dewasa.

Semua itu dibutuhkan supaya masyarakat atau warga belajar tidak merasa risih dan malu untuk menanyakan apa yang belum diketahui karena pada hakikatnya orang yang dewasa atau berusia lanjut juga manusia biasa yang mempunyai sisi-sisi tertentu yang sama dengan manusia yang usianya masih belum sematang mereka. Apalagi di daerah kita ini angka pernikahan dengan usia dini cukup tinggi. Hal itu juga akan berpengaruh pada banyaknya warga belajar yang usianya masih cukup muda dan memiliki kepekaan yang relatif sama dengan siswa dan mahasiswa pada umumnya.

Pemilihan tenaga pengajar  atau tutor secara selektif  bisa dilihat dari jenjang pendidikan yang sudah ditempuh sebagai bahan pertimbangan yang utama. Jenjang pendidikan yang sudah dijalani pada hakikatnya berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan dan bagaimana etika atau tata cara bergaul yang sebenarnya, melalui hal tersebut, insyaAlllah apa yang kita cita-citakan bisa terwujud dengan maksimal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s